Selasa, 16 Juni 2020

Strategi Pengembangan Kemampuan Membaca pada Anak usia Dini


Strategi Pengembangan Kemampuan Membaca
pada Anak Usia Dini
Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD

 “Bu, besok Zidan mau sekolah di SD mana? Zidan sudah hebat membacanya, pasti besok bisa masuk SD favorit nih!...Beda dengan anak saya, Farhan, membacanya belum lancar.  Kalau mau mendaftar di sekolah favorit jelas tidak lolos seleksinya, kemungkinan Farhan mau saya ikutkan les membaca..”.  Begitulah sebagian keluhan  orang tua di saat putra-putri mereka akan melanjutkan belajarnya ke tingkat pendidikan dasar.


Apakah anak usia dini perlu belajar membaca ?
Berdasarkan penelitian kecerdasan seseorang berkembang dinamis (tidak statis).  Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu tahun, apalagi sepuluh tahun lagi.  Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang .  Padahal kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.  Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya (kreativitas) dan kebiasannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving).  Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca.  Di buku “Right Barained Children in a Left Brained World” disebutkan tokoh-tokoh seperti Albert Einstein, Georgr S.Patton, William Butler Yeats adalah mereka yang terlambat membaca.

Karakteristik belajar pada anak usia dini
Anak memiliki karakteristik berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku.  Dengan demikian dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa.
Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini. Adapun karakteristik cara belajar anak menurut Masitoh dkk.(2009: 6.9-6.12) adalah :
1.             Anak belajar melalui bermain
2.             Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya.
3.             Anak belajar secara alamiah
4.       Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempeetimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, menarik dan fungsional.

Praktisi Metode Membaca Model Glenn Doman, Irene F. Mongkar (2005)  mengajari anaknya membaca sejak bayi dan hasilnya ketika berumur 18 bulan sudah bisa membaca koran dan saat  5 tahun sudah bisa membaca buku 5 Sekawan. Montessori dan Hainstock mengemukakan bahwa pada usia 4-5 tahun anak sudah bisa diajarkan membaca dan menulis.  Bahkan hal ini merupakan permainan yang menyenangkan bagi anak usia dini.
Membaca merupakan keterampilan bahasa tulis yang bersifat reseptif.  Kemampuan membaca merupakan satu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup kegiatan mengenali huruf dan kata, menghubungkannya dengan bunyi, maknanya serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.

Beberapa alasan perlunya menumbuhkan gemar membaca
Kemampuan membaca sangat penting dimiliki oleh anak, Mary Leonhardt (1999:27) menyatakan ada beberapa alasan mengapa kita perlu menumbuhkan gemar membaca pada anak sejak usia dini. Berikut adalah alasan-alasannya :
a.    Anak yang senang membaca akan membaca dengan baik, sebagian besar waktunya digunakan untuk membaca.
b.    Anak-anak yang gemar membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi. Mereka akan berbicara, menulis, dan memahami gagasan-gagasan rumit secara lebih baik.
c.    Membaca akan memberikan wawasan yang lebih luas dalam segala hal, dan membuat belajar lebih mudah.
d.   Kegemaran membaca akan memberikan beragam perspektif kepada anak.
e.    Membaca dapat membantu anak-anak untuk memiliki rasa kasih sayang.
f.     Anak-anak yang gemar membaca dihadapkan pada satu dunia yang penuh dengan kemungkinan dan kesempatan.
g.    Anak-anak yang gemar membaca akan mampu mengembangkan pola berpikir kreatif dalam diri mereka.

Tahap perkembangan membaca
Anak usia dini yang memiliki kemampuan  membaca memerlukan pelatihan, praktek, dan pengulangan.  Kemampuan ini berkembang dalam beberapa tahap yakni :
1.    Tahap fantasi (Magical stage), anak mulai belajar menggunakan buku, melihat dan membalik lembaran buku ataupun membawa buku kesukaannya.
2.    Tahap pembentukan konsep diri (Self Concept Stage), anak akan memandang dirinya sebagai `pembaca` dan terlihat keterlibatan anak dalam kegiatan membaca.
3.    Tahap membaca gambar (Bridging Reading Stage), anak mulai tumbuh kesadaran akan tulisan dalam buku dan menemukan kata yang pernah ditemui sebelumnya, dapat mengungkapkan kata-kata yang bermakna dan berhubungan dengan dirinya.
4.    Tahap pengenalan bacaan (Take off Raeader Stage), anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponik, sintaksis, dan semantik), mulai tertarik pada bacaan, dapat membaca berbagai tanda seperti pada papan iklan, kotak susu, dan lainnya.
5.    Tahap membaca lancar (Independent Reader Stage).  Anak mulai dapat membaca berbagai jenis buku.

Kesiapan anak sebelum membaca
Sehubungan dengan tahap-tahap perkembangan membaca anak di atas, yang perlu diketahui dan dipahami oleh guru adalah bagaimana menstimulasi potensi-potensi anak tersebut sesuai dengan tahapannya.  Sebelum mengajarkan membaca tentunya kita perlu melihat kesiapan anak yang harus dikembangkan ialah :
1.    Kemampuan membedakan auditorial
Dalam hal ini, anak - anak harus belajar untuk memahami suara-suara umum di lingkungan mereka dan membedakan di antara suara-suara tersebut.  Mereka harus memahami konsep volume, lompatan, petunjuk, durasi, rangkaian, tekanan, tempo, pengulangan, dan kontras (suara), membedakan suara-suara huruf dalam alphabet di taman kanak-kanak, terutama suara-suara yang dihasilkan oleh konsonan awal dalam kata (anak harus mampu membedakan suara huruf d dari suara t, suara m dari suara n).
2.    Kemampuan diskriminasi visual
Anak-anak harus belajar untuk memahami objek dan pengalaman.  Anak-anak bisa diminta untuk menyalin bentuk-bentuk geometris seperti lingkaran, bujur sangkar, segitiga.   Mereka harus belajar untuk melakukan identifikasi warna-warna dasar, bentuk-bentuk geometris dan mampu menggabungkan objek-objek berdasarkan warna, bentuk atau ukuran. Mereka harus mampu mengatakan bentuk dari gambar latar belakang, mengemukakan detail pada sebuah gambar, dan mengetahui pola-pola visual sederhana. Akhirnya, anak harus mampu untuk memahami dan menamai huruf besar dan huruf kecil.
3.    Kemampuan membuat hubungan suara dan simbol
Pada akhirnya, anak harus mampu mengaitkan huruf besar dan huruf kecil dengan nama mereka dan dengan suara yang mereka representasikan. Anak harus tahu bahwa d disebut de dan menetapkan suara pada awal kata “daging”. Sebagian besar anak akan membuat kemajuan awal yang bagus pada kemampuan-kemampuan ini selama masa Taman Kanak-kanak. Sedikitnya akan menguasai semua kemampuan (menghubungkan) suara symbol hingga masa selanjutnya di sekolah dasar.
4.    Kemampuan perseptual motoris
Dalam hal ini, perkembangan motorik halus serta koordinasi mata dan tangan diharapkan sudah berkembang dengan baik. Anak-anak harus cukup dewasa untuk mampu menggunakan otot halus tangan dan jari serta melakukan koordinasi gerakan dengan apa yang mereka lihat. Anak harus melatih kemampuan ini sehingga mampu  menyusun puzzle sederhana, gambar lukisan-tangan, membentuk tanah liat, merangkai manik-manik, menuangkan benda cair, dan menggunakan gunting. Anak harus belajar memegang krayon dan spidol.  Akhirnya, anak harus mampu menyalin huruf dan kata, menulis nama mereka, menulis huruf yang memadukan suara.
5.    Kemampuan bahasa lisan
Anak-anak juga harus dikembangkan kemampuan mendengarkan, mengingat, mengikuti petunjuk, mencatat detail, serta memahami ide.  Anak harus menggunakan dan memperluas kosa kata Bahasa lisan mereka untuk menjelaskan ide-ide, mendeskripsikan objek dan peristiwa, untuk mengekspresikan perasaan mereka. Anak hendaknya menjadi senang berbagi pengalaman dengan berbahasa.
6.    Interpretasi gambar
Dalam hal ini anak dapat menceritakan sebuah gambar dengan bahasanya sendiri.
7.    Progres dari kiri ke kanan
Dalam hal ini anak diperkenalkan bahwa kegiatan membaca dilakukan sari arah kiri ke kanan.
8.    Kemampuan merangkai
Anak mampu mengulang cerita yang baru saja ia dengar atau merangkai sebuah potongan gambar menjadi gambar yang utuh dengan tepat.
9.    Penggunaan bahasa verbal
Anak mampu terlibat dalam percakapan dan bermain peran.  Dengan bermain peran anak secara otomatis akan  memainkan peran dan bertindak serta berkata sesuai dengan tokoh yang diperankan.
10.    Lateralisasi
Anak mampu membedakan tangan kanan dan tangan kiri serta kaki kanan dan kaki kiri.
11.    Pengenalan Melihat Kata
Hal ini kita mengajarkan ke anak-anak kata-kata yang umum dipakai dan dianjurkan tiap anak untuk memperhatikan bentuk yang unik atau karakter khusus tiap melihat kata.
12.    Koordinasi gerak
Anak-anak diajak melakukan kegiatan dan games yang berupa pendidikan fisik yang akan membantu meningkatkan koordinasi gerak otot kasar dan halusnya.
Strategi pengembangan kemampuan membaca yang baik dan tepat di TK perlu diketahui dan dikembangkan oleh guru TK.  Jangan sampai pengembangan kemampuan membaca di TK mengadopsi proses pembelajaran yang berlaku di SD.  Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah kapan kemampuan membaca dan menulis itu mulai diajarkan?  Jawaban pertanyaan ini sebenarnya masih dalam polemik.  Menurut Moleong (2003) fenomena yang terjadi di lapangan bahwa sekarang banyak SD yang mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik terutama tes “membaca dan menulis”.  Hal ini apabila tidak ditindaklanjuti dengan benar akan menyebabkan pergeseran tanggung jawab pengembangan kemampuan skolastik (akademik) dari SD ke TK.  Akibatnya TK tidak lagi menjadi tempat bermain, bersosialisasi, dan mendapatkan teman yang banyak melainkan beralih fungsi menjadi sekolah “Taman Kanak-kanak” dalam  rangka menyekolahkan anak-anak secara dini dan instan.
Strategi pengembangan ini harus sesuai dengan karakteristik anak TK dan berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang hakiki melalui pendekatan pengalaman berbahasa.  Pendekatan ini menerapkan konsep DAP (Developmentally Aproppriate Practice) yakni melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan membaca serta melibatkan anak dalam kegiatan yang dapat memberikan berbagai pengalaman bagi anak.  Selain itu, perlu memperhatikan motivasi dan minat anak.

Metode Pengembangan Membaca
Mari kita menelaah satu persatu beberapa metode mengajarkan membaca pada anak, agar dapat menentukan metode yang tepat bagi anak-anak.
1.        Pengalaman membaca
Guru menggunakan kata-kata anak sendiri untuk membantunya belajar membaca.  Kata-kata itu dapat berupa penjelasan suatu gambar atau suatu cerita pendek yang dimasukkan ke dalam buku.  Pada awalnya anak mengatakan kepada guru apa yang harus ditulis.  Setelah itu, anak-anak menyalin tulisan guru dan akhirnya anak-anak dapat menuliskan kata-kata mereka sendiri. Dengan ini maka anak akan memahami bahwa yang tertulis adalah komunikasi makna.
2.        Mengeja / pengenalan alfabet
Mengeja adalah suatu cara lama yang sering dipakai orang tua dan pengajar dengan memperkenalkan abjad satu persatu terlebih dahulu baru melafalkan rangkaian hurufnya.  Setelah mempelajari bunyi huruf merka mulai merangkum beberapa huruf tertentu untuk membentuk kata-kata.
Misalnya b – a – k…bak;  r – a - k ….rak.
Kelemahan metode ini adalah anak usia dini sulit merangkaikan bunyi dan sulit menghilangkan proses pengejaan.  Cara ini sudah mulai ditinggalkan karena cenderung kurang praktis.
3.        Membaca dengan gambar
Anak-anak sangat menyukai gambar, namun kelemahannya adalah sulit menyiapkan alat peraga gambar dengan tulisan yang stabil dan anak-anak cenderung memperhatikan gambar daripada tulisan.
4.        Membaca secara keseluruhan baru per bagian
Caranya dengan memperkenalkan kalimat lengkap baru kemudian dipilah menjadi sebuah kata lalu menjadi beberapa kata dan akhirnya menjadi beberapa huruf. Cara ini jika diterapkan pada anak usia dini menjadikan anak mudah putus asa karena terasa sulit.
5.        Metode kartu kata
Kartu kata dibuat dari kertas putih ukuran 10x10cm dan ditulisi kata yang “dekat” dengan anak. Kartu ini berulangkali ditunjukkan pada anak disertai bunyi bacaannya.  Anak memandangi kata-kata, anak mendengar kata itu diucapkan dan anak mengulangi ucapan itu. Umumnya guru menunjukkan seluruh kalimat lebih dulu, kemudian seperangkat kartu kata-kata yang sepadan disimpan di bawah kalimat, dan akhirnya hanya kartu-kartu kata itu untuk membuat sebuah kalimat. Dengan cara lain anak-anak dapat memperoleh makna dari dalam kata-kata tercetak dari tahap paling awal belajar membaca. Kelemahannya adalah perlu banyak waktu dan tidak efisien dari segi dana, waktu dan alat peraga.
6.        Metode membaca suku kata
Metode ini memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi karena anak tidak merasa kesulitan dalam menggunakannya.

Faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca
Beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca terbagi dua yaitu (1) internal berupa motivasi ang bersifat biologis, psikologis dan linguistik yang timbul dari anak, dan (2) eksternal yakni lingkungan keluarga.  Kedua faktor ini saling mempengaruhi kemampuan membaca pada anak.  Untuk lebih jelasnya kita rinci satu persatu faktor di atas.
Faktor pertama adalah motivasi.  Anak harus memiliki motivasi yang tinggi untuk menghsilkan kemampuan belajar yang baik dan giat belajar membaca.  Kita bisa menyediakan bahan-bahan bacaan yang berkualitas tinggi dan menyenangkan anak.  Minat baca anak dipengaruhi oleh bahan bacaan, untuk itu bahan bacaan harus disertai ilustrasi gambar yang menarik.  Gambar lebih dominan daripada tulisan.  Anak dikenalkan dengan bermacam-macam topik agar menambah wawasan anak.  
Faktor ke dua adalah lingkungan.  Suasana lingkungan dan rumah juga harus mendukung anak gemar membaca.  Buatlah perpustakaan keluarga dan berikan keteladanan bahwa orang tuanya suka membaca.  Selain itu,  dengan cara anak sering diajak ke toko ataupun pameran buku dan disediakan papan tulis untuk media mencorat-coret.
Anak dianggap matang secara motorik dan sensorik mulai usia 6 atau 7 tahun.  Inilah usia yang tepat untuk mengajari membaca kepada mereka dengan catatan sudah benar-benar siap untuk membaca.  Jika pada usia tersebut anak masih menujukkan tanda belum adanya kesiapan, sebaiknya  jangan dipaksakan dan dibiarkan mereka berkembang dengan sendirinya.  Hindari memaksa anak untuk memahami segalas sesuatunya dengan cepat.
Anak-anak yang memang belum siap untuk belajar membaca kita tidak perlu merisaukan. Yang penting untuk anak usia dini bukanlah membacanya tetapi kita perlu mengajarkan budaya membaca.  Anak yang suka membaca belum tentu anak yang memiliki kemampuan lebih awal bisa membaca.
Hal ini lebih baik diatasi dengan kita menanamkan pembiasaan yang baik seperti norma sopan santun, membiasakan berkata baik, mengucap permisi, maaf, dan minta tolong.  Selain itu, kita bisa memberinya stimulus agar anak-anak terbiasa mempelajari cara membaca secara alamiah.  Apa gunanya prestasi tinggi tetapi tidak memiliki norma dan berkelakuan yang baik.  Dalam kehidupan sosial nantinya tidak hanya prestasi yang dikedepankan tetapi komunikasi dan personalisasi juga dibutuhkan supaya anak bisa beradaptasi dengan lingkungannya.
Sekarang kita semakin tergugah bahwa anak-anak  hidup di era abad industri yang disangga dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih.  Jika bangsa Indonesia ingin melesat maka pengembangan budaya baca tulis mutlak segera dilaksanakan.

Sumber :
Doman,Glenn J.(2005). How to Teach your Baby to Read. Jakarta: Index

Hasti, Sarahaswati.(2004). Mengenal Keaksaraan di TK. Jakarta: Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan PLB

Masitoh dkk.(2005). Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: Universitas Terbuka

Patmonodewo, S.(2003). Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta : Rineka Cipta



















1 komentar:

  1. Terimakasih atas sharing strategi pengembangan membaca alquran kepada anak, sangat membantu sekali kk

    BalasHapus