Strategi Pengembangan Kemampuan Membaca
pada Anak Usia Dini
Safitri Yuhdiyanti, S.Pd.AUD
“Bu, besok Zidan mau sekolah di SD mana? Zidan
sudah hebat membacanya, pasti besok bisa masuk SD favorit nih!...Beda dengan
anak saya, Farhan, membacanya belum lancar.
Kalau mau mendaftar di sekolah favorit jelas tidak lolos seleksinya,
kemungkinan Farhan mau saya ikutkan les membaca..”. Begitulah sebagian keluhan orang tua di saat putra-putri mereka akan
melanjutkan belajarnya ke tingkat pendidikan dasar.
Apakah anak usia dini perlu belajar membaca ?
Berdasarkan penelitian
kecerdasan seseorang berkembang dinamis (tidak statis). Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan
seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu
tahun, apalagi sepuluh tahun lagi.
Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang
. Padahal kebiasaan adalah perilaku yang
diulang-ulang. Sumber kecerdasan
seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai
budaya (kreativitas) dan kebiasannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving). Banyak tokoh sukses yang justru terlambat
membaca. Di buku “Right Barained Children in a Left Brained World” disebutkan
tokoh-tokoh seperti Albert Einstein, Georgr S.Patton, William Butler Yeats
adalah mereka yang terlambat membaca.
Karakteristik
belajar pada anak usia dini
Anak
memiliki karakteristik berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal belajar anak juga
memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa.
Karakteristik
cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan
dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini. Adapun
karakteristik cara belajar anak menurut Masitoh dkk.(2009: 6.9-6.12) adalah :
1.
Anak
belajar melalui bermain
2.
Anak
belajar dengan cara membangun pengetahuannya.
3.
Anak
belajar secara alamiah
4. Anak
belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempeetimbangkan keseluruhan
aspek pengembangan, menarik dan fungsional.
Praktisi Metode Membaca Model Glenn
Doman, Irene F. Mongkar (2005) mengajari
anaknya membaca sejak bayi dan hasilnya ketika berumur 18 bulan sudah bisa
membaca koran dan saat 5 tahun sudah
bisa membaca buku 5 Sekawan. Montessori dan Hainstock mengemukakan bahwa pada
usia 4-5 tahun anak sudah bisa diajarkan membaca dan menulis. Bahkan hal ini merupakan permainan yang
menyenangkan bagi anak usia dini.
Membaca merupakan keterampilan bahasa
tulis yang bersifat reseptif. Kemampuan
membaca merupakan satu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup kegiatan
mengenali huruf dan kata, menghubungkannya dengan bunyi, maknanya serta menarik
kesimpulan mengenai maksud bacaan.
Beberapa alasan perlunya menumbuhkan gemar membaca
Kemampuan
membaca sangat penting dimiliki oleh anak, Mary Leonhardt (1999:27) menyatakan
ada beberapa alasan mengapa kita perlu menumbuhkan gemar membaca pada anak
sejak usia dini. Berikut adalah alasan-alasannya :
a.
Anak yang senang
membaca akan membaca dengan baik, sebagian besar waktunya digunakan untuk
membaca.
b.
Anak-anak yang gemar
membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi. Mereka akan
berbicara, menulis, dan memahami gagasan-gagasan rumit secara lebih baik.
c.
Membaca akan
memberikan wawasan yang lebih luas dalam segala hal, dan membuat belajar lebih
mudah.
d.
Kegemaran membaca akan
memberikan beragam perspektif kepada anak.
e.
Membaca dapat membantu
anak-anak untuk memiliki rasa kasih sayang.
f.
Anak-anak yang gemar
membaca dihadapkan pada satu dunia yang penuh dengan kemungkinan dan
kesempatan.
g.
Anak-anak yang gemar membaca
akan mampu mengembangkan pola berpikir kreatif dalam diri mereka.
Tahap perkembangan membaca
Anak
usia dini yang memiliki
kemampuan membaca memerlukan pelatihan, praktek, dan
pengulangan. Kemampuan ini berkembang
dalam beberapa tahap yakni :
1.
Tahap fantasi (Magical
stage), anak mulai belajar menggunakan buku, melihat dan membalik lembaran
buku ataupun membawa buku kesukaannya.
2.
Tahap pembentukan
konsep diri (Self Concept Stage), anak akan memandang dirinya sebagai
`pembaca` dan terlihat keterlibatan anak dalam kegiatan membaca.
3.
Tahap membaca gambar (Bridging
Reading Stage), anak mulai tumbuh kesadaran akan tulisan dalam buku dan
menemukan kata yang pernah ditemui sebelumnya, dapat mengungkapkan kata-kata
yang bermakna dan berhubungan dengan dirinya.
4.
Tahap pengenalan bacaan
(Take off Raeader Stage), anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponik,
sintaksis, dan semantik), mulai tertarik pada bacaan, dapat membaca berbagai
tanda seperti pada papan iklan, kotak susu, dan lainnya.
5.
Tahap membaca lancar (Independent
Reader Stage). Anak mulai dapat
membaca berbagai jenis buku.
Kesiapan anak sebelum membaca
Sehubungan
dengan tahap-tahap perkembangan membaca anak di atas, yang perlu diketahui dan
dipahami oleh guru adalah bagaimana menstimulasi potensi-potensi anak tersebut
sesuai dengan tahapannya. Sebelum mengajarkan membaca
tentunya kita perlu melihat kesiapan anak yang harus dikembangkan ialah :
1. Kemampuan membedakan
auditorial
Dalam hal ini, anak - anak harus belajar
untuk memahami suara-suara umum di
lingkungan
mereka dan membedakan di antara suara-suara tersebut. Mereka
harus memahami konsep volume, lompatan, petunjuk, durasi, rangkaian, tekanan,
tempo, pengulangan, dan kontras (suara), membedakan suara-suara huruf dalam alphabet di
taman kanak-kanak, terutama
suara-suara yang dihasilkan oleh konsonan awal dalam kata (anak harus mampu
membedakan suara huruf d dari suara t, suara m dari
suara n).
2. Kemampuan diskriminasi
visual
Anak-anak harus belajar untuk memahami
objek dan pengalaman. Anak-anak bisa diminta untuk
menyalin bentuk-bentuk geometris seperti lingkaran, bujur sangkar, segitiga. Mereka harus belajar untuk melakukan identifikasi
warna-warna dasar, bentuk-bentuk
geometris dan mampu
menggabungkan objek-objek berdasarkan warna, bentuk atau ukuran. Mereka harus
mampu mengatakan bentuk dari gambar latar belakang, mengemukakan detail pada
sebuah gambar, dan mengetahui
pola-pola
visual sederhana. Akhirnya, anak harus mampu untuk memahami
dan menamai huruf besar dan huruf kecil.
3. Kemampuan membuat hubungan
suara dan simbol
Pada akhirnya, anak harus
mampu mengaitkan huruf besar dan huruf kecil
dengan nama mereka dan dengan suara yang mereka representasikan.
Anak harus tahu bahwa d disebut de dan menetapkan suara
pada awal kata “daging”. Sebagian besar anak akan membuat kemajuan
awal yang bagus pada kemampuan-kemampuan ini selama masa
Taman Kanak-kanak. Sedikitnya akan menguasai semua kemampuan
(menghubungkan) suara symbol hingga masa selanjutnya di sekolah dasar.
4. Kemampuan perseptual
motoris
Dalam hal ini, perkembangan motorik halus serta koordinasi mata dan
tangan diharapkan sudah berkembang dengan baik. Anak-anak
harus cukup dewasa untuk mampu menggunakan otot halus tangan dan jari serta
melakukan koordinasi gerakan dengan apa yang mereka lihat. Anak
harus melatih kemampuan ini sehingga mampu menyusun
puzzle sederhana, gambar lukisan-tangan, membentuk tanah liat, merangkai
manik-manik, menuangkan benda cair, dan menggunakan gunting. Anak harus belajar
memegang krayon dan spidol. Akhirnya,
anak harus
mampu menyalin huruf dan kata, menulis nama mereka, menulis huruf yang memadukan
suara.
5. Kemampuan bahasa lisan
Anak-anak juga harus dikembangkan kemampuan mendengarkan, mengingat,
mengikuti petunjuk, mencatat detail, serta memahami ide. Anak harus menggunakan
dan memperluas
kosa kata Bahasa lisan mereka untuk menjelaskan ide-ide, mendeskripsikan objek
dan peristiwa, untuk
mengekspresikan perasaan
mereka. Anak hendaknya menjadi senang berbagi pengalaman
dengan berbahasa.
6. Interpretasi gambar
Dalam hal ini anak dapat menceritakan sebuah gambar dengan bahasanya
sendiri.
7. Progres dari kiri ke kanan
Dalam hal ini anak diperkenalkan bahwa kegiatan membaca dilakukan sari
arah kiri ke kanan.
8. Kemampuan merangkai
Anak mampu mengulang cerita yang baru saja ia dengar atau merangkai
sebuah potongan gambar menjadi gambar yang utuh dengan tepat.
9. Penggunaan bahasa verbal
Anak mampu terlibat dalam percakapan dan bermain peran. Dengan bermain peran anak secara otomatis
akan memainkan peran dan bertindak serta
berkata sesuai dengan tokoh yang diperankan.
10. Lateralisasi
Anak mampu membedakan tangan kanan dan tangan kiri serta kaki kanan dan
kaki kiri.
11. Pengenalan
Melihat Kata
Hal ini kita
mengajarkan ke anak-anak kata-kata yang umum dipakai dan dianjurkan tiap anak
untuk memperhatikan bentuk yang unik atau karakter khusus tiap melihat kata.
12.
Koordinasi
gerak
Anak-anak diajak melakukan kegiatan dan games yang berupa pendidikan
fisik yang akan membantu meningkatkan koordinasi gerak otot kasar dan halusnya.
Strategi pengembangan kemampuan membaca
yang baik dan tepat di TK perlu diketahui dan dikembangkan oleh guru TK. Jangan sampai pengembangan kemampuan membaca
di TK mengadopsi proses pembelajaran yang berlaku di SD. Akan tetapi, yang
menjadi pertanyaan adalah kapan kemampuan membaca dan menulis itu mulai
diajarkan? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya
masih dalam polemik. Menurut
Moleong (2003) fenomena yang terjadi di lapangan bahwa sekarang banyak SD yang
mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik
terutama tes “membaca dan menulis”. Hal
ini apabila tidak ditindaklanjuti dengan benar akan menyebabkan pergeseran
tanggung jawab pengembangan kemampuan skolastik (akademik) dari SD ke TK. Akibatnya TK tidak lagi menjadi tempat
bermain, bersosialisasi, dan mendapatkan teman yang banyak melainkan beralih
fungsi menjadi sekolah “Taman Kanak-kanak” dalam rangka
menyekolahkan anak-anak secara dini dan instan.
Strategi pengembangan ini harus sesuai
dengan karakteristik anak TK dan berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang
hakiki melalui pendekatan pengalaman berbahasa.
Pendekatan ini menerapkan konsep DAP (Developmentally Aproppriate
Practice) yakni melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar yang
tepat untuk mengembangkan kemampuan membaca serta melibatkan anak dalam
kegiatan yang dapat memberikan berbagai pengalaman bagi anak. Selain itu, perlu memperhatikan motivasi dan
minat anak.
Metode Pengembangan Membaca
Mari kita
menelaah satu persatu beberapa metode mengajarkan membaca pada anak, agar dapat
menentukan metode yang tepat bagi anak-anak.
1.
Pengalaman
membaca
Guru
menggunakan kata-kata anak sendiri untuk membantunya belajar membaca. Kata-kata itu dapat berupa penjelasan suatu
gambar atau suatu cerita pendek yang dimasukkan ke dalam buku. Pada awalnya anak mengatakan kepada guru apa
yang harus ditulis. Setelah itu,
anak-anak menyalin tulisan guru dan akhirnya anak-anak dapat menuliskan
kata-kata mereka sendiri. Dengan ini maka anak akan memahami bahwa yang
tertulis adalah komunikasi makna.
2.
Mengeja / pengenalan alfabet
Mengeja adalah suatu cara lama yang
sering dipakai orang tua dan pengajar dengan memperkenalkan abjad satu persatu
terlebih dahulu baru melafalkan rangkaian hurufnya. Setelah mempelajari
bunyi huruf merka mulai merangkum beberapa
huruf tertentu untuk membentuk kata-kata.
Misalnya
b – a – k…bak; r – a - k ….rak.
Kelemahan metode ini adalah anak usia
dini sulit merangkaikan bunyi dan sulit menghilangkan proses pengejaan. Cara ini sudah mulai ditinggalkan karena
cenderung kurang praktis.
3.
Membaca dengan gambar
Anak-anak sangat menyukai gambar, namun kelemahannya
adalah sulit menyiapkan alat peraga gambar dengan tulisan yang stabil dan
anak-anak cenderung memperhatikan gambar daripada tulisan.
4.
Membaca secara
keseluruhan baru per bagian
Caranya dengan memperkenalkan kalimat
lengkap baru kemudian dipilah menjadi sebuah kata lalu menjadi beberapa kata
dan akhirnya menjadi beberapa huruf. Cara ini jika diterapkan pada anak usia
dini menjadikan anak mudah putus asa karena terasa sulit.
5.
Metode kartu kata
Kartu kata dibuat dari kertas putih
ukuran 10x10cm dan ditulisi kata yang “dekat” dengan anak. Kartu ini
berulangkali ditunjukkan pada anak disertai bunyi bacaannya. Anak memandangi
kata-kata, anak mendengar kata itu diucapkan dan anak mengulangi
ucapan itu. Umumnya guru menunjukkan seluruh kalimat lebih dulu, kemudian
seperangkat kartu kata-kata yang sepadan disimpan di bawah
kalimat, dan akhirnya hanya kartu-kartu kata itu
untuk membuat sebuah kalimat. Dengan cara lain anak-anak dapat
memperoleh makna dari dalam kata-kata tercetak dari tahap paling
awal belajar membaca.
Kelemahannya
adalah perlu banyak waktu dan tidak efisien dari segi dana, waktu dan alat
peraga.
6.
Metode membaca suku
kata
Metode ini memiliki tingkat keberhasilan
yang cukup tinggi karena anak tidak merasa kesulitan dalam menggunakannya.
Faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca
Beberapa faktor yang mempengaruhi
kemampuan membaca terbagi dua
yaitu (1) internal berupa motivasi ang bersifat biologis, psikologis dan
linguistik yang timbul dari anak, dan (2) eksternal yakni lingkungan keluarga. Kedua faktor ini saling mempengaruhi
kemampuan membaca pada anak. Untuk lebih
jelasnya kita rinci satu persatu faktor di atas.
Faktor
pertama adalah motivasi. Anak harus
memiliki motivasi yang tinggi untuk menghsilkan kemampuan belajar yang baik dan
giat belajar membaca. Kita bisa
menyediakan bahan-bahan bacaan yang berkualitas tinggi dan menyenangkan anak. Minat baca anak dipengaruhi oleh bahan
bacaan, untuk itu bahan bacaan harus disertai ilustrasi gambar
yang menarik. Gambar lebih dominan daripada tulisan. Anak dikenalkan dengan bermacam-macam topik
agar menambah wawasan anak.
Faktor ke
dua adalah lingkungan. Suasana
lingkungan dan rumah juga harus mendukung anak gemar membaca.
Buatlah perpustakaan keluarga dan berikan keteladanan bahwa orang tuanya
suka membaca. Selain itu, dengan cara anak sering diajak ke toko ataupun
pameran buku dan
disediakan papan tulis untuk media mencorat-coret.
Anak
dianggap matang secara motorik dan sensorik mulai usia 6 atau 7 tahun. Inilah usia yang tepat untuk mengajari
membaca kepada mereka dengan catatan sudah benar-benar siap untuk membaca. Jika pada usia tersebut anak masih menujukkan
tanda belum adanya kesiapan, sebaiknya
jangan dipaksakan dan dibiarkan mereka berkembang dengan sendirinya. Hindari memaksa anak untuk memahami segalas
sesuatunya dengan cepat.
Anak-anak
yang memang belum siap untuk belajar membaca kita tidak perlu merisaukan. Yang
penting untuk anak usia dini bukanlah membacanya tetapi kita perlu mengajarkan
budaya membaca. Anak yang suka membaca
belum tentu anak yang memiliki kemampuan lebih awal bisa membaca.
Hal
ini lebih baik diatasi dengan kita menanamkan pembiasaan yang baik seperti
norma sopan santun, membiasakan berkata baik, mengucap permisi, maaf, dan minta
tolong. Selain itu, kita bisa memberinya
stimulus agar anak-anak terbiasa mempelajari cara membaca secara alamiah. Apa gunanya prestasi tinggi tetapi tidak
memiliki norma dan berkelakuan yang baik.
Dalam kehidupan sosial nantinya tidak hanya prestasi yang dikedepankan
tetapi komunikasi dan personalisasi juga dibutuhkan supaya anak bisa
beradaptasi dengan lingkungannya.
Sekarang kita semakin
tergugah bahwa anak-anak hidup di era
abad industri yang disangga dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin
canggih. Jika bangsa Indonesia ingin melesat
maka pengembangan budaya baca tulis mutlak segera dilaksanakan.
Sumber
:
Doman,Glenn J.(2005). How
to Teach your Baby to Read. Jakarta: Index
Hasti, Sarahaswati.(2004). Mengenal
Keaksaraan di TK. Jakarta: Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan dan PLB
Masitoh dkk.(2005). Strategi
Pembelajaran TK. Jakarta: Universitas Terbuka
Patmonodewo, S.(2003). Pendidikan
Anak Prasekolah. Jakarta : Rineka Cipta

Terimakasih atas sharing strategi pengembangan membaca alquran kepada anak, sangat membantu sekali kk
BalasHapus